Menurut Wagub, peran perempuan di Aceh sangat nyata dalam sektor ekonomi. Ia menyinggung data nasional yang menunjukkan 64 persen pelaku UMKM di Indonesia adalah perempuan, bahkan di Aceh jumlahnya melebihi laki-laki.
“Melalui usaha kuliner, kerajinan, fesyen, hingga pemasaran digital, perempuan Aceh bukan hanya menggerakkan ekonomi keluarga, tetapi juga memperkuat budaya lokal dan membawa produk kita bersaing di pasar nasional bahkan global,” ujar Fadhlullah.
Sementara itu, Ketua Umum FKPA, Hj. Kartini, mengungkapkan rasa bangganya atas kehadiran para perempuan dari berbagai daerah yang rela datang jauh-jauh ke Banda Aceh untuk menghadiri pelantikan.
Ia menjelaskan bahwa FKPA lahir dari semangat 31 organisasi perempuan lintas profesi, sehingga bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan nilai-nilai Islam dan Pancasila yang berorientasi pada peningkatan kompetensi dan kemandirian perempuan dalam pembangunan daerah.
“Pemberdayaan perempuan tidak bisa berjalan sendiri. FKPA butuh kolaborasi dengan pemerintah, akademisi, dan seluruh mitra strategis agar mampu mendukung program pembangunan daerah. Kami ingin meneguhkan semangat bahwa perempuan Aceh harus kreatif, tangguh, bermartabat, serta mampu memberi kontribusi nyata. Dari FKPA, kita berharap lahir perempuan Aceh yang unggul dan berdaya saing,” kata Kartini.
Ia juga mengajak seluruh anggota FKPA dan masyarakat untuk terus menjaga kebersamaan. “Semangat ini harus kita rawat bersama, agar menjadi kekuatan dalam mengabdi untuk Aceh,” ujarnya.
Pelantikan FKPA turut dihadiri oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Aceh (DP3A) Meutia Juliana, istri Wakil Gubernur Aceh Hj. Mukarramah, serta Kepala Biro Administrasi Pimpinan Setda Aceh, Akkar Arafat.