Suradji menyebut pemanfaatan penginderaan jauh kelautan, data satelit dan teknologi geospasial dapat membantu memahami berbagai perubahan yang terjadi di lingkungan laut dan pesisir. Teknologi tersebut juga dapat mendukung penelitian ilmiah, pemantauan lingkungan serta pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang lebih tepat berdasarkan data dan informasi.
“Namun, teknologi juga harus didukung oleh pengetahuan, sumber daya manusia yang terampil, serta kolaborasi yang kuat. Oleh karena itu, kami sangat mengapresiasi kerja sama antara Universitas Syiah Kuala, Universiti Teknologi Malaysia, dan PORSEC,” ujarnya.
Wakil Wali Kota Sabang berharap Pulau Weh tidak hanya menjadi lokasi penyelenggaraan program, tetapi juga ruang belajar terbuka bagi peserta untuk menghubungkan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan kondisi nyata di lapangan. Kesempatan tersebut juga diharapkan dapat memperluas pertukaran pengetahuan, jejaring profesional dan peluang kerja sama di masa mendatang.
“Lautan menghubungkan kita semua. Tantangan seperti perubahan iklim serta pengelolaan sumber daya laut dan pesisir yang berkelanjutan tidak dapat ditangani oleh satu lembaga atau satu negara saja. Untuk menghadapinya, dibutuhkan ilmu pengetahuan, pendidikan, teknologi dan yang tak kalah penting yaitu kemitraan,” tambahnya.
Wakil Wali Kota Sabang berharap kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik dan produktif, serta memperkaya pengetahuan, mempererat hubungan antarpeserta dan memperkuat kolaborasi internasional.//Redaksi