Oleh sebab itu, Ulama dan juga Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis tersebut juga imengajak seluruh jamaah untuk memperbanyak istighfar guna mengetuk pintu rahmat Allah agar hujan yang turun membawa kesuburan, bukan bencana.
“Solusi terhadap permasalahan ini adalah istiqpar dan taubat, summah tubbuilahi, memohon ampun kesalahan dan dosa kepada Allah. Agar Allah menyayangi kita, agar diberikan hujan yang baik, menyuburkan dan bukan hujan yang menghancurkan,” tegasnya menutup ceramah.
Dalam khotbahnya, Ustaz Abdul Halim menjelaskan bahwa salat Istisqa adalah sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika terjadi kekeringan. Oleh karena itu, ia berharap gerakan memohon hujan ini tidak hanya berhenti di lapangan Korem saja.
Sementara itu, Komandan Korem (Danrem) 011/Lilawangsa Brigjen TNI Ali Imran menyampaikan bahwa pelaksanaan shalat Istisqa merupakan bagian dari ikhtiar spiritual sekaligus bentuk kepedulian TNI terhadap kondisi masyarakat yang terdampak kemarau.
Shalat minta hujan.Foto Dok Penrem Lilawangsa
Menurutnya, di tengah kondisi cuaca yang kering dan ancaman kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah, prajurit tidak hanya dituntut melakukan langkah-langkah penanganan di lapangan, tetapi juga memperkuat ikhtiar melalui doa dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Ia juga mengajak seluruh prajurit dan masyarakat untuk terus menjaga lingkungan, menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran serta bersama-sama menghadapi dampak musim kemarau.
Jalannya ibadah yang berlangsung khidmat itu kemudian dilanjutkan dengan doa bersama agar Allah menurunkan hujan yang membawa keberkahan, menyuburkan tanah, serta mengakhiri kekeringan dan bencana kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.