Berdasarkan pengamatan awal, kondisi lemah orangutan diduga berkaitan dengan paparan asap dan kekurangan cairan. Namun demikian, pemeriksaan medis lebih lanjut tetap diperlukan untuk memastikan kondisi kesehatan serta penyebab yang dialami orangutan tersebut.
Setelah efek pembiusan berangsur hilang dan kondisi orangutan dinilai memungkinkan untuk dipindahkan, tim segera mengevakuasinya ke pusat rehabilitasi YIARI untuk mendapatkan observasi dan penanganan medis lebih lanjut.
Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane mengatakan, kondisi kebakaran di sekitar habitat dan ruang jelajah satwa perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pergerakan serta kondisi satwa liar dilindungi.
“Kebakaran tidak hanya berdampak terhadap tutupan lahan, tetapi juga berpotensi memberikan tekanan terhadap satwa liar yang berada di sekitarnya. Karena itu, pemantauan terhadap pergerakan satwa di wilayah terdampak juga penting dilakukan. Kami mengapresiasi laporan masyarakat dan kerja sama seluruh pihak sehingga orangutan ini dapat segera mendapatkan pertolongan,” kata Murlan.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat yang menemukan orangutan atau satwa liar lainnya di sekitar permukiman, perkebunan, maupun wilayah terdampak kebakaran untuk tidak melakukan penanganan sendiri.
Masyarakat diminta menjaga jarak, tidak mengganggu atau memberi makan satwa, serta segera melaporkan keberadaannya kepada BKSDA atau petugas kehutanan setempat.
Aentenews by Ampelsa.