Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB
Jakarta (Aentenews) - Gempa bumi magnitudo 7,7 di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8), memaksa lebih dari 5.000 jiwa mengungsi dan sebanyak 47 korban jiwa serta 914 unit rumah mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan.
Berdasarkan pemutakhiran data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu (16/8) pukul 00:00 WIB, konsentrasi pengungsi di NTT saat ini terpantau di Kabupaten Sikka dengan total 3.356 jiwa tersebar di GOR Samador sebanyak 1.356 jiwa dan mandiri 2.000 jiwa di 10 titik pengungsian.
Sedangkan di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai total 2.078 jiwa. Ratusan pengungsi lainnya juga dilaporkan bertahan di Nagekeo sebanyak 500 jiwa, dan dua wilayah di provinsi berbeda, yaitu Bima, hingga Kepulauan Selayar.
Pemenuhan hak-hak dasar dan logistik di pengungsian kini menjadi salah satu prioritas penanganan darurat. Para penyintas, khususnya di Kabupaten Manggarai, sangat membutuhkan bantuan mendesak berupa puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 lembar tikar, pasokan air bersih (tandon), hingga genset.
Guncangan gempa yang telah diikuti oleh 341 kali aktivitas gempa susulan ini memicu dampak kehancuran yang signifikan. Bencana ini merenggut nyawa 47 orang, dengan korban meninggal dunia terbanyak berada di Kabupaten Manggarai 23 jiwa dan Manggarai Timur 17 jiwa. Sementara itu, korban jiwa lainnya tersebar di Kabupaten Sikka 4 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, Ende 1 jiwa, dan Nagekeo 1 jiwa. Setidaknya 101 warga dilaporkan luka-luka dengan tingkat keparahan yang beragam.
Selain jatuhnya korban jiwa, gempa yang berpusat di laut ini mengakibatkan kerugian material yang melumpuhkan aktivitas warga. Data sementara di wilayah NTT mencatat 914 unit rumah mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan