nasional

Cagar Budaya Antara Warisan dan Ancaman Bencana,

Rabu, 15 April 2026 | 14:27 WIB


Jakarta (Aentenews) -  Bandan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menilaipentingnya melakukan transformasi dalam pengelolaan cagar budaya melalui pemetaan berbasis mitigasi risiko, penguatan struktur bangunan dan peningkatan kapasitas masyarakat.





“Pendekatan tidak lagi reaktif, melainkan berbasis mitigasi risiko,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNP,  Abdul Muhari BNPB di Jakarta, Rabu (15/4/2026).





Pemanfaatan teknologi seperti InaRISK dinilai menjadi kunci integrasi data bahaya, kerentanan, dan kapasitas dalam satu platform. Dengan pendekatan ini, cagar budaya tidak hanya dilindungi, tetapi dikelola secara adaptif terhadap ancaman bencana.





Pada akhirnya, cagar budaya bukan sekedar peninggalan masa lalu. Ia adalah identitas bangsa dan memori kolektif yang harus dijaga. Melindunginya dari ancaman bencana bukan hanya soal kebijakan, melainkan tanggung jawab bersama.





Ancaman bencana tidak hanya merenggut korban jiwa, tetapi juga menggerus jejak sejarah bangsa. Hal ini mengemuka dalam seminar “Cagar Budaya yang Tangguh Bencana Berkelanjutan” di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Selasa (14/4), yang menghadirkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai narasumber.





Menteri Kebudayaan Fadli Zon saat membuka acara menegaskan bahwa bencana berdampak luas, tidak hanya pada manusia, tetapi juga pada sistem kehidupan, termasuk cagar budaya. “Cagar budaya merupakan bagian dari sistem kehidupan yang juga rentan terdampak bencana,” ujarnya.





Indonesia menghadapi ironi, kaya akan warisan budaya, namun berada di kawasan rawan bencana. BNPB mencatat, hingga 13 April 2026 telah terjadi 748 kejadian bencana, didominasi banjir dan cuaca ekstrem. 


Halaman:

Tags

Terkini

Da'i kini harus gaul di medsos, dakwah  ke lapangan 

Jumat, 25 September 2026 | 08:39 WIB

41 persen anak sekolah alami gigi berlubang

Sabtu, 19 September 2026 | 11:09 WIB