ekonomi

Aceh Tengah pacu Infrastruktur, pulihkan konektivitas dan lindungi DAS 

Kamis, 15 Oktober 2026 | 23:04 WIB
Pekerja mempercepat penyelesaian Pembangunan TPA Mulie Jadi untuk melindungi DAS di Aceh Tengah. dok. Satgas PRR

 

 

Aceh Tengah (Aentenews) - Pemulihan pascabencana di Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, diarahkan pada infrastruktur yang berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat dan perlindungan lingkungan.

Percepatan antara lain dilakukan melalui pembangunan jalan alternatif Angkup–Blang Merepah serta Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Mulie Jadi di Kecamatan Silih Nara.

Percepatan pembangunan tersebut berjalan seiring percepatan pemanfaatan anggaran. Hingga Selasa (13/10/2026), realisasi tambahan Transfer ke Daerah (TKD) mencapai Rp13,01 miliar atau 32,56 persen dari pagu Rp39,9 miliar.

Sementara realisasi Dana Otonomi Khusus Aceh tercatat Rp242,9 miliar atau 22,07 persen dari pagu Rp1,1 triliun. Bantuan Keuangan Khusus terealisasi Rp7,2 miliar atau 27,02 persen dari pagu Rp27 miliar.

Salah satu pekerjaan prioritas ialah pembangunan jalan alternatif Angkup–Blang Merepah sepanjang 600 meter dengan anggaran tambahan TKD sebesar Rp1,2 miliar. Ruas tersebut menghubungkan jalur nasional Genting–Gerbang dengan Pameu–Geumpang sekaligus menjadi solusi setelah Jembatan Merah Mutiara yang menghubungkan Silih Nara dan Rusip Antara terputus akibat bencana hidrometeorologi November 2025.

Progres pembangunan jalan telah mencapai 40 persen dan ditargetkan selesai pada pertengahan November 2026. Konstruksinya menggunakan lapisan agregat kelas B setebal 20 sentimeter dan lapisan aspal enam sentimeter untuk

“Mudah-mudahan pada akhir bulan sudah bisa dilakukan pengaspalan. Harapan masyarakat dan pemerintah sama, yakni akses aktivitas serta perekonomian kembali lancar dan tidak terganggu,” kata Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah Andalika saat menerima kunjungan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, Selasa (13/10/2026).

Terhubungnya jalan tersebut akan memperlancar mobilitas masyarakat dan distribusi barang antara Aceh Tengah, Nagan Raya, dan Pidie. Kehadiran jalur alternatif juga menjaga akses antarwilayah tetap tersedia selama penanganan permanen terhadap infrastruktur yang rusak dilanjutkan.

Selain memulihkan konektivitas, Aceh Tengah memperkuat pengelolaan lingkungan melalui pembangunan TPA Mulie Jadi. Fasilitas yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum itu telah mencapai progres 71,5 persen dan ditargetkan selesai pada 17 Desember 2026.

TPA tersebut dirancang menampung sampah dari seluruh wilayah Aceh Tengah dengan kapasitas sekitar 4.000 ton. Fasilitasnya dilengkapi empat kolam pengolahan, yaitu kolam anaerobik, fakultatif, maturasi, dan wetland, untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih aman bagi lingkungan.

Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Aceh Tengah Alam Syuhada mengatakan keberadaan TPA penting untuk mengurangi masuknya sampah ke sungai. Perlindungan kawasan hulu diperlukan karena aliran Krueng Peusangan terhubung hingga Bireuen, Aceh Utara, dan kawasan pesisir lainnya.

“Oleh karena itu, hulunya penting kita perhatikan. Kalau ini menjadi perhatian, saya rasa kita bisa mencegah agar saudara-saudara di daerah pesisir tidak terdampak sampah dari kawasan hulu,” ujar Alam.

Tags

Terkini

Seluruh Daerah dengan Realisasi TKD Tambahan di Aceh 

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:19 WIB