Kembali lagi ke cerita, "seorang pria terluka akibat ulah pengendara motor yang membawa senjata tajam di kawasan Pasar Aceh, minggu dini hari". Kenyamanan Kota Banda Aceh, gara-gara itu jadi terusik.
Apakah ulah orang yang membawa senjata tajam dan melukai seorang warga itu, sebuah skenario untuk menghilangkan label Banda Aceh sudah tidak nyaman lagi?
Atau memang, di Banda Aceh sudah ada atau sedang coba-coba "buat geng motor atau aksi begal? Sama-sama kita tunggu hasil kerja keras aparat kepolisian mengungkap kasus "Orang bersenjata tajam melakukan kekerasan terhadap warga di Pasar Aceh".
Namun yang jelas, masyarakat Kota Banda Aceh, tetap ingin hidup dalam suasana aman dan nyaman, sehingga tak ada rasa takut keluar rumah meski tengah malam.
Peristiwa yang sempat mengusik rasa aman gara-gara "petaka minggu dini hari" itu mendapat kecaman dari tokoh masyarakat, bahkan Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa'aduddin Djamal, menegaskan itu tidak boleh lagi terjadi.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat berkolaborasi dengan aparat keamanan untuk pencegahan secara dini berbagai potensi kejahatan jalanan, seperti geng motor atau berbagai bentuk kriminal lainnya guna menciptakan kondusifitas di kota ini.
"Pencegahan dini melibatkan semua komponen keamanan dan dukungan masyarakat sangat penting, sehingga harapan kita semua guna mempertahankan gelar Banda Aceh sebagai kota aman dan kondusif untuk semua orang tetap terwujud," katanya.
Peristiwa itu menyedihkan kita semua, dan mengusik ketenangan dan kenyamanan bagi kota yang berjuluk "Serambi Mekah" ini. Apalagi Banda Aceh selama ini telah menjadi salah satu tujuan wisata, baik domestik maupun wisatawan mancanegara.