Lebih dari itu, arsip juga merekam informasi kearifan lokal masyarakat. Oleh karena itu pentingnya mengelola arsip dengan baik dan tepat, menjadi penting dilakukan oleh setiap orang dan lembaga.
“Arsip juga merekam pengetahuan masyarakat tentang kemana warga menyelamatkan diri, tanda-tanda alam apa yang mereka kenali, jalur mana yang dapat dilalui, kelompok mana yang paling rentan, serta keputusan apa yang terbukti efektif maupun yang perlu diperbaiki,” tuturnya.
Dikatakannya, jika informasi tersebut hilang, rusak, atau tidak dapat diakses, maka generasi berikutnya berisiko memulai kembali dari titik nol. Mereka dapat menghadapi ancaman yang sama tanpa memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman sebelumnya.
Sebaliknya, apabila arsip kebencanaan diselamatkan dan dikelola dengan baik, maka pengalaman masa lalu dapat diubah menjadi pengetahuan, pengetahuan dapat diubah menjadi kebijakan, dan kebijakan dapat diterjemahkan menjadi tindakan kesiapsiagaan.
Arsip tersebut nantinya dapat dijadikan rujukan untuk menentukan titik evakuasi, menyusun sistem peringatan dini, merancang simulasi kesiapsiagaan, menyiapkan logistik, memperkuat infrastruktur, hingga melakukan perlindungan terhadap kelompok rentan.
“Menyelamatkan arsip kebencanaan berarti menyelamatkan pembelajaran. Menyelamatkan pembelajaran berarti memperkuat kesiapsiagaan. Dan memperkuat kesiapsiagaan berarti memberikan perlindungan yang lebih baik kepada masyarakat, hari ini dan pada masa yang akan datang,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala ANRI Mego Pinandito menyampaikan bahwa atas dukungan penuh dari BNPB, program penyelamatan arsip di tiga provinsi terdampak ini dapat berjalan dengan baik.
Adapun arsip yang diselamatkan tidak hanya arsip-arsip yang dimiliki oleh pemerintah daerah saja, namun juga mencakup arsip milik masyarakat.