“Hijrah mengajak kita untuk berpindah dari sikap saling curiga menuju saling percaya, dari perpecahan menuju persatuan, dari sikap apatis menuju kepedulian, serta dari orientasi pada kepentingan pribadi menuju pengabdian yang lebih luas bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujar Menag
Selain itu, Menag juga mengajak semua untuk memperkuat dialog, toleransi, dan persaudaraan kebangsaan. Menurutnya, nilai-nilai tersebut merupakan wujud nyata semangat hijrah dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
"Di tengah era disrupsi yang ditandai oleh menguatnya sikap individualistik, perbedaan pandangan, dan berbagai tantangan sosial yang kompleks, nilai-nilai hijrah perlu kita wujudkan dalam bentuk kesediaan untuk membangun dialog, memperkuat toleransi, dan merawat persaudaraan kebangsaan," tegas Menag.
“Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang bebas dari perbedaan, melainkan bangsa yang mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan untuk melangkah demi kemaslahatan bersama,” lanjutnya.
Menag mengatakan, semangat tersebut merupakan bentuk peneladanan atas peristiwa hijrah Rasulullah SAW yang diperingati pada Tahun Baru Hijriah. Menurutnya, hijrah Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kemajuan peradaban tidak hanya ditopang oleh kekuatan dan kecakapan, tetapi juga oleh persaudaraan, keadilan, dan kepedulian terhadap kemaslahatan bersama.
“Semangat hijrah adalah semangat untuk terus bertumbuh, memperbaiki kualitas diri, memperkuat integritas, serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi sesama. Dengan semangat itu, umat akan semakin kuat menghadapi berbagai tantangan zaman dan semakin mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa,” demikian kata Menag.
Aentenews by Ampelsa.