Kenaikan harga daging itu dipicu meningkatnya permintaan masyarakat yang bisa mencapai di atas 100 persen pada hari meugang.
Namun, di balik penyembelihan hewan di hari meugang itu juga terkandung nilai-nilai luhur yang menjadi bagian dari identitas budaya dan spiritual masyarakat Aceh.
Beragam makna untuk menyebut "uroe meugang" di tengah-tengah masyarakat. Meugang bisa disebut sebagai tradisi dalam mempererat tali persaudaraan dan hubungan antarwarga, menghilangkan kesenjangan dan memperkuat rasa kebersamaan.
Jadi tak heran, jika perantau Aceh memilih mudik ke kampung halaman setiap hari meugang, terlebih mereka yang masih memiliki orangtua kandung. Mudik menjadi pilihan mudik di Aceh ketimbang lebaran.
Hal tersebut mengandung makna bahwa di hari meugang, perantau ingin menikmati daging yang dimasak oleh orangtuanya, kemudian disantap bersama saudara atau tetangganya di rumah orangtua mereka.
Selain itu, sebagian daging "meugang" disalurkan kepada kaum dhuafa, yatim piatu, dan orang yang membutuhkan, sebagai bentuk persiapan hati untuk menjalankan ibadah di bulan Ramadhan.
Ada juga yang menyebut "uroe meugang" sebagai momen membersihkan diri secara fisik dan rohani untuk menyambut kedatangan bulan yang penuh berkah dengan hati yang lapang dan penuh makna.