Banda Aceh (Aentenews) - Wacana tentang pembangunan terowongan Geurutee mencuat beberapa tahun lalu, atau pada masa Aceh dipimpin Gubernur dr Zaini Abdullah yang berpasangan dengan Wagub Muzakir Manaf di periode 2012-2017.
Bahkan ketika itu, menyatakan "Terowongan Geurute" sebagai prioritas guna mengatasi isolasi dan memperlancar transportasi dari Kota Banda Aceh ke pesisir pantai barat dan selatan provinsi ujung paling barat Indonesia itu.
Dengan harapan ketika itu, wacana pembangunan terowongan yang menembus gunung dan bukit di perbatasan antara Lhong di Kabupaten Aceh Besar hingga ke Lamno Aceh Jaya itu dapat mengantikan jalan gunung yang sempit, curam, dan rawan longsor.
Namun, harapan Pemerintah Aceh yang khabarnya telah diusulkan ke Presiden Jokowi ketika itu tidak terealisasi hingga jabatan Zaini Abdullah sebagai gubernur berakhir.
Selain untuk memangkas waktu perjalanan, keberadaan "Terowongan Geurutee" itu dianggap penting karena akan mengurangi risiko korban jiwa sebagai dampak kecelakaan, termasuk bencana tanah longsor dan pohon tumbang saat hujan dan angin di kawasan Gunung Geurute.
Dalam beberapa hari ini, soal wacana pembangunan "Terowongon Geurutee" kembali mencuat dan menjadi bahan diskusi kecil masyarakat di warung-warung kopi. Ada yang optimistis dengan argumentasi masing-masing, meski juga ada yang pesimis hanya program "cet langet".
Namun dari kedua pandangan yang berbeda itu, ada khabar yang sedikit menyenangkan namun penuh harapan tak sekedar peninjauan sejumlah pejabat di Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas ke kawasan gunung Geurutee, belum lama ini.