Satu keluarga dengan membawa bekal makan siang dari rumah untuk disantap di objek wisata pantai di Lhoknga, Aceh Besar, bahagian dari tradisi "Minggu Akhe" . Foto Aentenews by Azhari.
Aceh Besar (Aentenews) - Beragam istilah dan tradisi masyarakat tak kala menyambut bulan Suci Ramadhan, dan setiap daerah terkadang berbeda makna dan cara mereka merayakannya.
Misalnya, "Minggu akhe" yang mengandung makna "minggu terakhir" lazim digelar masyarakat di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar, dengan makan bersama atau istilahnya "meuramein", ada yang kepantai atau juga ke sungai-sungai dengan membawa bekal makanan untuk disantap bersama-sama, dengan memboyong keluarga, serta juga komunitas di kampung-kampung mereka.
Bahkan, tradisi " Minggu Akhe" juga telah membudaya dikalangan pekerja kantoran baik pemerintah dan swasta di Aceh. Jika komunitas dalam jumlah banyak, misal ratusan orang, maka sajian makan bersama mereka masak di lokasi, baik di pantai maupun objek wisata sungai.
Sementara di pesisir selatan Aceh, seperti di Aceh Singkil dan Kota Subulussalam, pekan-pekan akhir sebelum tibanya Ramadhan, warga juga ramai mengunjungi objek wisata pantai dan sungai, namun namanga bukan "Minggu Akhe" tapi "Mandi Malimao" dan artinya juga sama, makan bersama sambil mandi-mandi di sungai atau laut.
Mak Uning, warga Gampong Beurawe Kota Banda Aceh, misalnya ikut bersama-sama keluarga besarnya makan bersama sambil bercengkrama dengan saudara-saudaranya di objek wisata Lhoknga, Aceh Besar.
"Ini kami lakukan sudah sejak lama. Dan rutin setiap tahun sepekan menjelang puasa Ramadhan. Tradisi yang bukan syarat syariat ini adalah turun temurun atau semacam warisan leluhur, " kata dia.