Andri menambahkan, kebutuhan terhadap pangan akan terus berlanjut sehingga berbagai upaya penguatan sektor pertanian terus dilakukan, termasuk melalui teknologi pertanian dan inovasi yang sesuai dengan kondisi daerah.
“Karena masyarakat tetap membutuhkan makanan pokok, tentunya kita tidak bisa berhenti. Ke depan, lahan pertanian yang kecil bisa kita gantikan dengan teknologi modern dari sektor pertanian itu sendiri,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum YSPN, Daryatmo, menjelaskan bahwa program Swasembada Pangan Berbasis Sekolah lahir dari gagasan pembangunan panga, sehingga tidak cukup hanya berfokus pada komoditas, tetapi juga pada pembangunan manusianya.
“Kalau kita bicara pangan, selama ini yang dibicarakan objeknya beras, jagung, dan sebagainya. Sedikit sekali yang bicara siapa yang menjadi subyeknya, yaitu sumber daya manusia. Kalau ke depan pertanian diwujudkan secara modern, maka SDM-nya juga harus SDM yang modern, tempanya ada di sekolah-sekolah,” ujarnya.
Ia mengatakan salah satu tujuan program tersebut adalah menjawab tantangan regenerasi petani dengan mengajak generasi muda melihat pertanian sebagai sektor yang lebih luas dan inovatif.
“Kami ingin mengatasi krisis generasi petani dengan mengajak generasi muda dan siswa sekolah memahami bahwa pertanian ini tidak hanya sekadar menanam saja, tetapi merupakan aktivitas agrobisnis yang sangat inovatif,” kata Daryatmo.
Aentenews by Ampelsa.