Ia juga menyinggung hal yang kerap dianggap sepele: menjaga pandangan. Di era gawai dalam genggaman, syahwat tak lagi menunggu ruang gelap. Ia hadir di layar kecil yang bisa diakses siapa saja, termasuk anak-anak. Karena itu, menjaga pergaulan anak menjadi kewajiban orang tua.
Feature ini bukan hanya tentang ceramah seorang santri. Ini tentang kegelisahan generasi muda Aceh yang ingin identitas daerahnya tetap berdiri di atas nilai Islam yang kokoh.
Teuku Rafi tidak menawarkan janji politik. Ia menawarkan kesadaran. Bahwa menyelamatkan anak-anak dari krisis moral tidak cukup dengan nasihat sesekali. Perlu lingkungan. Perlu sistem. Perlu dayah.
Di akhir ceramahnya, ia mengajak jamaah menjadikan Ramadan sebagai ladang ibadah yang sungguh-sungguh. Memperbanyak amal, memperbaiki akhlak, dan memohon rahmat Allah SWT.
Di Masjid Babussalam Gampong Batee, Kemukiman Kalee, Kecamatan Muara Tiga, Pidie malam itu, pesan yang disampaikan sederhana: jika ingin Aceh tetap bermarwah, mulailah dari anak-anak. Mulailah dari pendidikan. Mulailah dari dayah.//Aentenews by Amir Sagita.