Ia menegaskan kehadiran pemerintah tidak berhenti pada penanganan darurat semata, melainkan berlanjut hingga pemulihan kehidupan masyarakat.
Sebagai bentuk respons cepat, Pemerintah Kabupaten Pidie telah menyelesaikan pembangunan 12 unit Huntara. Hunian tersebut memang bersifat sementara, namun bagi warga Blang Pandak, bangunan itu menghadirkan kembali rasa aman—sebuah ruang untuk berteduh, beristirahat, dan menata ulang masa depan.
Tak berhenti di situ, pemerintah daerah juga menyiapkan rencana pembangunan 89 unit Hunian Tetap (Huntap). Mengingat Blang Pandak termasuk wilayah rawan bencana, Sarjani menegaskan bahwa pembangunan Huntap akan dilakukan dengan perencanaan matang dan memperhatikan aspek mitigasi risiko.
“Dengan kerja sama seluruh pihak, kita berharap hunian tetap ini bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga memperkuat ketangguhan gampong menghadapi bencana,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, pemerintah menyerahkan bantuan dana tunggu hunian sebesar Rp600 ribu per bulan per kepala keluarga bagi korban banjir bandang yang rumahnya rusak berat atau hanyut dan belum memperoleh Huntara. Bantuan tersebut dimaksudkan untuk membantu kebutuhan sewa rumah selama masa pemulihan.
Bantuan pangan berupa beras, paket sembako, selimut, dan mi instan juga disalurkan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga. Kehadiran sejumlah pejabat daerah, unsur TNI-Polri, perwakilan BNPB, hingga tokoh masyarakat menegaskan bahwa penanganan bencana bukan kerja satu pihak.
Di Blang Pandak, semangat gotong royong kembali tumbuh—bersama Huntara yang berdiri sederhana, harapan pun perlahan ikut dibangun.
Bagi warga yang kehilangan segalanya, Huntara mungkin hanya rumah singgah.