Rabu, 30 September 2026

Peneliti BRIN ungkap hasil analisis Oseanografi hilang kontak KM Virgo

Photo Author
Ampelsa, AenteNews.com
- Selasa, 15 September 2026 | 10:58 WIB


Foto Ilustrasi gelombang tinggi





Yogyakarta (Aentenews) - Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo mengungkapkan bahwa dari hasil analisis menunjukkan bahwa kondisi laut di lokasi kejadian tenggelamnya KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa pada Minggu (13/9/2026) sekitar pukul 01.00 WIB memang bergelombang dengan tinggi gelombang berada pada kategori sedang dan tidak termasuk ekstrem. 





“Tinggi gelombang signifikan tercatat sekitar 1,56 meter, dengan periode sekitar enam detik. Dalam klasifikasi keselamatan pelayaran yang digunakan dalam kajian, nilai tersebut termasuk kategori sedang (1,25–2,50 meter). Kategori tinggi dimulai pada 2,50 meter, sedangkan kategori sangat tinggi pada 4 meter,” kata  Widodo dalam siaran pers website BRIN, Selasa (15/9/2026). 





Kajian ini disusun sebagai analisis ilmiah independen berbasis data model operasional kelautan internasional untuk memberikan dasar ilmiah tambahan bagi penyelidikan resmi. Penyelidikan kecelakaan tetap menjadi kewenangan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dan otoritas pelayaran. Karena itu, hasil kajian tidak dimaksudkan untuk menentukan penyebab tunggal maupun menetapkan pihak yang bertanggung jawab.





“Gelombang pada malam kejadian didominasi gelombang yang dibangkitkan oleh angin setempat, sekitar 96 persen dari tinggi total, bukan swell yang merambat dari wilayah jauh. Dari karakteristik gelombang dan periodenya, kecepatan angin permukaan diperkirakan sekitar 6,4–8,3 meter per detik atau 12–16 knot, yang berada pada kisaran Beaufort 4–5,” terang Widodo.





Lebih jauh, Widodo menyebutkan bahwa gelombang datang dari arah tenggara-timur, sekitar 122 derajat, sehingga secara geometris mengenai kapal dari arah samping atau beam seas. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kapal mengalami gerakan oleng secara berulang.





Analisis dinamika kapal memperkirakan periode gelombang sekitar 5,66–6,47 detik, sedangkan periode alami oleng kapal dengan ukuran panjang sekitar 119 meter dan lebar 21 meter berada pada kisaran 11–18 detik berdasarkan rentang parameter stabilitas yang digunakan dalam kajian. Perbedaan periode tersebut menunjukkan tidak terbentuknya penguatan oleng melalui resonansi dalam skenario yang dianalisis.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Ampelsa

Tags

Terkini

Barcelona gagal ke puncak

Senin, 6 Oktober 2025 | 08:13 WIB
X