Jakarta (Aentenews) - Kepala Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian menyatakan sekitar 5.814 hektare tambak dan kolam terdampak bencana banjir di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat telah kembali beroperasi.
Pernyataan tersebut disampaikan Tito Karnavian saat memberikan keterangan pers bersama Menteri Kealutan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Pemulihan tersebut membantu pembudidaya menghidupkan kembali usaha perikanan sekaligus memulihkan sumber pendapatan keluarga korban pascabencana hidrometeorologi melanda pada November 2025.
Lahan budi daya yang telah ditangani mencakup sekitar 5.707,46 hektare di Aceh, 73,67 hektare di Sumatera Utara, dan 33,29 hektare di Sumatera Barat. Penanganan dilakukan secara bertahap melalui pembersihan lahan, pembukaan saluran, serta penyediaan sarana pendukung produksi.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan bencana berdampak terhadap sektor kelautan dan perikanan di 40 kabupaten/kota pada tiga provinsi. Dampaknya dirasakan oleh 5.974 nelayan, 25.386 pembudi daya ikan, 375 pelaku pengolahan ikan, serta 1.450 pelaku usaha garam.
“Kerusakan juga berdampak pada sarana kelautan dan perikanan yang mencakup 41.779 unit sarana penangkapan ikan, 35.751 hektare tambak, kolam dan prasarana pendukung, 3.475 unit keramba, serta kawasan tambak garam di Provinsi Aceh,” kata Trenggono dalam konferensi pers di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Untuk mempercepat pemulihan, Kementerian Kelautan dan Perikanan mengalokasikan Rp371,8 miliar pada 2026, terdiri atas Rp113,8 miliar dari Anggaran Belanja Tambahan dan Rp258 miliar melalui penyesuaian anggaran kementerian. Program rehabilitasi dan rekonstruksi sektor ini direncanakan berlangsung hingga 2028.
Dukungan kepada nelayan diwujudkan melalui penyaluran 826 paket alat penangkapan ikan dari target 2.146 paket. Sebanyak 145 unit mesin kapal juga telah disalurkan dari target 593 unit agar nelayan dapat kembali melaut dan menjalankan kegiatan usahanya.
Pemulihan turut menjangkau usaha pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. Sebanyak 360 paket sarana pengolahan telah disalurkan dari target 375 paket, disertai 1.031 unit kotak pendingin atau coolbox dari target 1.500 unit untuk membantu menjaga mutu hasil tangkapan dan budi daya.
Pada sektor usaha garam rakyat, penanganan mencakup 506 rumah produksi di Kabupaten Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, dan Aceh Timur. Sebanyak 15 rumah produksi di Bireuen telah beroperasi, sedangkan 491 unit lainnya masih dibangun dan ditargetkan beroperasi pada pekan kedua Desember 2026.
KKP juga mengerahkan 12 ekskavator untuk membersihkan tambak dan kolam yang tertimbun lumpur, rumput, serta material banjir. Delapan unit ditempatkan di Aceh, dua unit di Sumatera Utara untuk mendukung penanganan di Serdang Bedagai dan Tapanuli Tengah, serta dua unit di Sumatera Barat untuk Kabupaten Agam dan Padang Pariaman.
“Alat berat ini mempercepat pembersihan dan pembukaan saluran tambak dan kolam sehingga lahan bisa segera beroperasi,” ujar Trenggono.
Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera Muhammad Tito Karnavian mengatakan penanganan sektor kelautan dan perikanan mencakup rehabilitasi tambak, kolam, keramba dan pelabuhan, serta bantuan mesin kapal, alat tangkap, sarana pengolahan, rumah produksi garam, dan ekskavator.