Ibunya mengatakan bahwa Lana sering terbangun di malam hari sambil berteriak dan menutup telinganya, seakan-akan ingin menghalangi suara ledakan yang bergema dalam mimpinya.
Abdullah al-Jamal, direktur Rumah Sakit Jiwa Gaza yang kini telah hancur, menggambarkan situasi kesehatan mental di Gaza sebagai “katastropik”.
“Sebagian besar warga Gaza menderita gangguan psikologis sedang hingga berat akibat rasa takut yang terus-menerus dan kurangnya rasa aman,” ujar al-Jamal kepada Xinhua.
Dia mengatakan gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder/PTSD) dan depresi merupakan kondisi yang paling umum terjadi, sementara perilaku melukai diri sendiri juga telah dilaporkan di kalangan anak muda. “Kelanjutan dari trauma, yang dikombinasikan dengan kurangnya obat-obatan, dapat mengakibatkan gangguan mental jangka panjang, terutama di kalangan anak-anak,” ujar al-Jamal memperingatkan.
Al-Jamal mengatakan bahwa ketersediaan obat psikiatris saat ini kurang dari 50 persen dari tingkat sebelum perang. “Pusat-pusat kesehatan kekurangan staf terlatih, dan dukungan internasional masih terbatas,” ujarnya.
Sebuah laporan dari Program Kesehatan Mental Komunitas Gaza, yang diterbitkan pada Oktober 2025 dengan judul ‘Krisis Kesehatan Mental: Dua Tahun Hidup di Bawah Genosida’, menemukan bahwa hampir 68 persen penduduk Gaza menderita PTSD.
Laporan tersebut mengatakan bahwa 96 persen anak-anak merasa kematian sudah dekat, 92 persen berjuang untuk beradaptasi dengan kondisi kehidupan yang baru, dan 87 persen mengalami ketakutan dan mimpi buruk terus-menerus.