humaniora

Feature - Para penyintas Gaza hadapi jalan panjang untuk pulih dari luka psikologis

Selasa, 4 November 2025 | 20:03 WIB
Foto yang diabadikan pada 29 Oktober 2025 di Rumah Sakit al-Shifa, sebelah barat Gaza City, ini menunjukkan seorang warga Palestina yang berduka atas korban yang tewas akibat serangan udara Israel. (Xinhua/Rizek Abdeljawad) 4 November 2025



Di tenda lain di Kota Deir al-Balah, di Gaza tengah, Samah Ahmed (22), seorang mahasiswi jurusan teknik yang mengungsi dari Gaza City, duduk diam.





“Perang telah merenggut kemampuan saya untuk menangis,” ujarnya kepada Xinhua. Samah kehilangan saudara kembarnya, Ismail, ketika sebuah rudal menghantam lingkungan mereka.





“Saya menyaksikan tembok runtuh dan mendengar dia meneriakkan nama saya,” kenangnya. “Kemudian dia menghilang. Saya berlari mencarinya di antara debu dan asap, tetapi saya tidak menemukan apa pun selain abu.”





“Sejak hari itu, saya tidak bisa menangis. Saya mencoba untuk meredakan rasa pedih, tetapi tidak ada hasil. Rasanya seperti hati saya membeku. Saya tidak lagi merasakan kesedihan atau kegembiraan,” ujarnya.





Salem Abu Taha, seorang psikolog yang berbasis di Gaza, mengatakan kepada Xinhua bahwa gejala-gejala yang dialami Samah adalah gejala yang biasa disebut para pakar sebagai “mati rasa secara emosional”, suatu bentuk trauma psikologis yang parah.





“Dalam kasus kehilangan yang tiba-tiba, terutama kehilangan orang yang dikasihi, pikiran melindungi dirinya sendiri dengan melepaskan diri dari kenyataan,” ujar Abu Taha. “Tanpa perawatan, trauma tersebut dapat berkembang menjadi depresi kronis atau masalah perilaku.”





Abu Taha mengatakan ratusan anak muda Gaza mengalami kondisi serupa. Dia menyerukan program terapi kelompok dan inisiatif rehabilitasi bagi para pelajar. Mereka membutuhkan bantuan untuk mengungkapkan kesedihan dan membangun kembali kepercayaan diri, tambahnya.





Di Khan Younis, Gaza selatan, trauma terlihat jelas bahkan di kalangan anak-anak. Lana al-Sharif (10) menderita vitiligo, suatu kelainan kulit, setelah menyaksikan rumah di dekatnya hancur dalam pengeboman.

Halaman:

Tags

Terkini

Bertemu Kafilah MTQN Semarang, Wagub Aceh sampaikan ini

Sabtu, 19 September 2026 | 21:24 WIB

Latihan Mobud dan Fastrope menjelang ke Hawaii

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:33 WIB

Warga Brunei dilarang merokok, ternyata ini alasannya

Minggu, 9 November 2025 | 00:08 WIB