Gaza, Palestina (Xinhua/Indonesia Window/Aentenews) – Sembari duduk di dalam sebuah tenda darurat di Gaza utara, Mariam Abu al-Kas (31) menatap kosong ke depan, tangannya gemetar ketika berbicara.
“Setiap kali saya memejamkan mata, saya teringat kembali akan malam itu,” ujar wanita tersebut kepada Xinhua.
Satu setengah tahun yang lalu, dia kehilangan suami dan lima anaknya dalam sebuah serangan udara Israel.
“Dalam mimpi saya, saya mendengar rudal mendekat, jeritan anak-anak saya, dan kemudian keheningan. Saya merasa seolah-olah terjebak di bawah reruntuhan, mencari-cari mereka dengan tangan kosong.”
Sebelum perang, Mariam adalah seorang guru di sebuah sekolah swasta di Gaza City.
“Kami memiliki kehidupan yang sederhana dan bahagia,” tuturnya. “Tapi sekarang, saya bahkan tidak bisa mengenali diri saya sendiri di cermin. Seolah-olah perang telah merenggut wajah, suara, dan jiwa saya.”
Beberapa pekan setelah senjata-senjata tak lagi bersuara di Jalur Gaza, warga seperti Mariam terus hidup di bawah bayang-bayang luka psikologis yang ditinggalkan oleh operasi militer yang dilancarkan Israel tanpa henti selama dua tahun, yang menewaskan puluhan ribu orang dan membuat jutaan warga mengungsi. Menurut para pakar, dibutuhkan waktu beberapa generasi untuk menyembuhkan luka-luka tersebut.