Menurut Indra, risiko gangguan kesehatan dapat meningkat seiring tingginya konsentrasi partikulat halus PM2.5 dalam asap karhutla.
Ia juga menyebut kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan bronkitis, baik rawat jalan maupun rawat inap, meningkat pada Agustus dan September dibandingkan Mei, Juni, dan Juli.
“Paparan asap yang terjadi dalam lama akan mengakibatkan mudahnya terjadi serangan atau eksaserbasi pada penderita asma, bronkiektasis dan PPOK.
Pada orang-orang yang sedang ataupun pernah menderita TB maupun penyakit infeksi kronis lain juga akan mengakibatkan mudah terjadinya infeksi baru dan penurunan fungsi paru. Pasien asma dan PPOK juga bisa mengalami serangan yang mengancam jiwa yang ditandai dengan gagal napas,” katanya