ekonomi

Udara sangat tidak sehat di Pekanbaru, perhimpunan dokter paru dorong rumah oksigen

Kamis, 8 Oktober 2026 | 21:29 WIB
Aktivitas kendaraan saat Kota Pekanbaru diselimuti asap dari kebakaran hutan dalan lahan, pada Kamis (8/10/2026) Dok MC Prov Riau.

 

 

Pekanbaru (Aentenews) - Kualitas udara Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, masih berada pada kategori sangat tidak sehat pada Kamis (8/10/2026) pagi, dengan konsentrasi partikulat halus PM2.5 tercatat 176,8 µg/m³ pada pukul 07.00 WIB.

 Berdasarkan pemantauan sejak tengah malam hingga pagi, konsentrasi PM2.5 berada pada rentang 164,6–215,5 µg/m³. Konsentrasi tertinggi tercatat mencapai 215,5 µg/m³.

 Kondisi tersebut terjadi ketika kekaburan udara akibat asap masih berpotensi berlangsung di sejumlah wilayah Riau. Forecaster BMKG Pekanbaru, Yasir Prayuna, mengatakan kekaburan akibat asap diprakirakan terjadi sejak pagi hingga dini hari.

 “Dalam prakiraan cuaca BMKG, kekaburan akibat asap berpotensi terjadi sejak pagi hingga dini hari. Pada pagi hari, cuaca diprakirakan cerah berawan dengan potensi kekaburan akibat asap,” kata Yasir, dikutip dari laman Infopublik, Kamis (8/10/2026).

 Pada siang hingga sore, kondisi cerah berawan masih berpotensi disertai kekaburan akibat asap. Hujan ringan hingga sedang berpeluang terjadi di sebagian wilayah Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kampar, Bengkalis, Siak, Kota Dumai, dan Kota Pekanbaru.

 Pada malam hari, kekaburan udara akibat asap juga masih berpotensi terjadi dengan kondisi berawan. Hujan ringan hingga sedang diprakirakan turun di sebagian Rokan Hulu, Kampar, Siak, Bengkalis, Dumai, dan Pekanbaru.

 

“Pada dini hari, udara masih berpotensi mengalami kekaburan akibat asap dengan kondisi berawan,” imbuhnya.

 BMKG juga memantau 19 titik panas atau hotspot di Riau. Kabupaten Kuantan Singingi menjadi daerah dengan jumlah terbanyak, yakni 15 titik.

 Sementara, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Provinsi Riau meminta pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten dan kota mulai memetakan kebutuhan rumah atau tenda oksigen guna membantu masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan di tengah paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

 Sekretaris PDPI Provinsi Riau, Indra Yovi, mengatakan dampak asap akan lebih terasa pada kelompok rentan, terutama bayi, anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki penyakit paru dan saluran pernapasan.

 Kelompok tersebut antara lain penderita asma, tuberkulosis (TB), penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kanker paru, sinusitis, dan rinitis.

Halaman:

Tags

Terkini

Laba membaik, Saham GOTO justru terperosok 44%  

Jumat, 2 Oktober 2026 | 10:33 WIB