ekonomi

Aceh Tenggara Percepat Pemulihan Sungai Sebelum Puncak Musim Hujan

Selasa, 6 Oktober 2026 | 21:18 WIB
Tim Monev khusus Satgas PRR meninjau infrastruktur jembatan putus yang kembali terdampak bencana banjir susulan di Aceh Tenggara. dok. Satgas PRR

 

 

Aceh Tenggara (Aentenews) - Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh, memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim hujan setelah banjir susulan September 2026 yang kembali merusak jalan, jembatan, tanggul, jaringan irigasi, dan lahan pertanian di daerah tersebut.

Langkah prioritas diarahkan pada penyediaan empat ekskavator serta percepatan penanganan permanen infrastruktur untuk normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, pembersihan material, penutupan tanggul jebol, pemulihan irigasi, dan penanganan cepat saat debit sungai meningkat.

Pemkab Aceh Tenggara menyatakan siap menanggung biaya operasional alat selama digunakan. Daerah juga mengajukan tambahan jumbo bag atau geobag sebagai perlindungan sementara pada tanggul yang jebol sambil menunggu pembangunan konstruksi permanen.

Banjir susulan pada September 2026 berdampak terhadap 103 kepala keluarga (KK) atau 411 jiwa. Pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, dan instansi teknis telah melakukan kajian  cepat, menurunkan alat berat, membersihkan material, menutup tanggul, mendirikan posko lapangan, serta menyalurkan bantuan kepada masyarakat.

Kebutuhan tersebut turut dicatat dalam monitoring dan evaluasi khusus Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera pada 2–4 Oktober 2026.

“Kebutuhan paling mendesak untuk menghadapi musim hujan adalah dukungan empat ekskavator, terdiri atas satu unit long arm dan tiga unit standar. Pemerintah daerah siap mendukung biaya operasional alat,” tegas Ketua Tim Monev Khusus Aceh Tenggara Kombes Pol Wahyu Widiarso Suprapto dalam laporan hasil peninjauan.

Salah satu lokasi yang membutuhkan solusi segera adalah Jembatan Mbarung, penghubung Kecamatan Babussalam dengan Kecamatan Lawe Alas dan wilayah sekitarnya. Jalan darurat di lokasi tersebut kembali putus akibat banjir susulan, sedangkan pembangunan permanen baru direncanakan pada 2028. Pemerintah daerah mengusulkan pengamanan sementara yang lebih aman sekaligus percepatan jadwal pembangunan permanen.

Penanganan Sungai Lawe Bulan, Lawe Kisam, Lawe Kinga, dan Lawe Alas juga menjadi prioritas. Tanggul beton di Sungai Lawe Bulan disebut telah berkontrak, sedangkan Lawe Kisam dan Lawe Kinga membutuhkan pengerukan sedimentasi, penataan alur, dan perkuatan tanggul untuk melindungi permukiman serta lahan pertanian.

Solusi permanen diarahkan pada peninggian jembatan, pelebaran bentang, serta normalisasi sungai dalam satu desain penanganan.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara selanjutnya akan melengkapi data kerusakan, kajian teknis, status kewenangan, volume kebutuhan, dan rencana anggaran untuk desk Bappenas pada Oktober 2026. Langkah tersebut diperlukan agar kebutuhan yang belum masuk R3P dan Rencana Induk dapat diusulkan dalam pembaruan program.

Tags

Terkini

Laba membaik, Saham GOTO justru terperosok 44%  

Jumat, 2 Oktober 2026 | 10:33 WIB