Berbeda dengan sejumlah bule, meski hari mulai memasuki fase gelap, namun mereka tak bergeming duduk di tepi pantai, membiarkan kaki terendam air hangat sore hari, mereka tetap asyik menyaksikan cahaya matahari yang perlahan lenyap di balik cakrawala.
Namun secara umum, baik wisatawan lokal maupun domestik, termasuk puluhan pewarta, menikmati senja di Pulau Weh itu memiliki perasaan yang sama yakni terbius suasana pantai Pulau Rubiah, sehingga seluruh lelah hari itu ikut tersapu ke lautan. Romantis, tenang, dan sulit dilupakan.
Nasir Nurdin, wartawan senior di Aceh menilai Pulau Weh layak menjadi kawasan wisata potensial Indonesia karena didukung keindahan alam yang luar biasa.
Tak hanya keindahan pantai dan panorama alam bawah laut tempat berdiamnya ratusan jenis ikan hias, serta biota laut yang unik, tapi juga didukung keramah tamahan penduduknya.
Aneka kuliner khas Sabang, menurutnya juga menjadi salah satu "magnet" untuk orang memilih berlibur atau berwisata ke Pulau Weh.
"Penduduk Sabang cukup ramah. Kulinernya juga oke, maka layak saya sebut, Sabang kota wisata menarik bagi setiap orang," katanya menambahkan.
Karena itu, M Nasir Nurdin yang juga Ketua PWI Aceh menyatakan modal alami berupa bentangan alam dan budaya masyarakat itu juga tidak cukup untuk menarik lebih banyak wisatawan ke Sabang.
Untuk itu, dukungan semua pihak, misal pemerintah untuk membangun infrastruktur pendukung di Sabang sangat diharapkan. Kemudian investasi dari kalangan swasta juga diharapkan guna memajukan Pulau Weh.