Hari menjelang senja di Pulau Rubiah sambil menikmati secangkir kopi dan sepotong pisang goreng, sebuah momen tak terlupakan, sebagai obat penambah ketenangan jiwa.
Drama tiupan angin sepoi-sepoi mengiring udara sejuk melengkapi cerita tentang indahnya panorama bawah laut Pulau Rubiah, sehingga menjadi obat untuk melupakan kepenatan cuaca panas di kota asal.
Meski mentari mulai turun perlahan ke ufuk barat, langit berubah gradasi menjadi jingga keemasan yang memantul air di permukaan laut sebening kristal, tak sadarkan puluhan wisatawan yang sedang merendam di bibir pantai bahwa hari menjelang malam.
Panorama keindahan bawah laut itu membuat wisatawan tak lelah bercengkerama dengan terumbu karang yang dikelilingi ikan hias. Mirip sebuah akurium raksasa yang terbentang di alam Pulau Rubiah.
Debur ombak yang lembut menyapu pasir putih, angin laut berhembus sejuk, seakan menghipnotis puluhan wisatawan, termasuk para pewarta lintas media yang ikut menyelam di laut hijau kaki bukit Pulau Rubiah.
Puluhan jurnalis yang merupakan peserta media gathering PLN UID Aceh 2026, nyaris lupa diri untuk bangkit dari air laut hijau meski arloji mulai menunjukkan pukul 18.00 WIB, pertanda hari mulai senja.
Meski ketika itu bayangan langit mulai kemerah-merahan dan bukit hijau Pulau Weh di kejauhan melengkapi suasana alam yang begitu damai .