Rabu, 30 September 2026

"Shutdown" Pemerintah AS masuki pekan ketiga, depkeu peringatkan dampak ekonomi

Photo Author
Azhari, AenteNews.com
- Kamis, 16 Oktober 2025 | 10:32 WIB
Gedung Capitol Amerika Serikat (AS) terlihat di Washington DC, AS, pada 5 Oktober 2025. (Xinhua/Li Rui)
Gedung Capitol Amerika Serikat (AS) terlihat di Washington DC, AS, pada 5 Oktober 2025. (Xinhua/Li Rui)


(Xinhua/Indonesia Window/Aentenews) – Seiring penutupan (shutdown) pemerintahan federal Amerika Serikat (AS) memasuki pekan ketiga, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan bahwa shutdown tersebut sudah mulai berdampak negatif terhadap perekonomian riil.





“Situasinya semakin serius. Kondisi ini mulai berdampak pada perekonomian riil,” ungkapnya kepada Fox Business pada Senin (13/10), tanpa memberikan rincian lebih lanjut.





Bessent menjelaskan bahwa pemerintah terpaksa “mengutak-atik anggaran” untuk memastikan pembayaran upah militer, sehingga mengakibatkan keterlambatan atau penangguhan pembayaran kepada pegawai dan layanan federal lainnya, termasuk museum Smithsonian dan National Zoo. Bessent juga mengonfirmasi bahwa pekerja-pekerja di seluruh AS sedang dirumahkan untuk sementara waktu.





Pada 1 Oktober, hari pertama shutdown pemerintahan, firma konsultan EY-Parthenon memperkirakan bahwa setiap pekan selama shutdown diterapkan akan mengurangi sekitar 0,1 poin persentase dari produk domestik bruto (PDB) kuartalan AS, setara dengan kerugian sekitar 7 miliar dolar AS. Sementara Politico, yang mengutip memo Gedung Putih, melaporkan bahwa dampak ekonomi pekanan bisa mencapai 15 miliar dolar AS, yang berpotensi menyebabkan 43.000 pekerjaan lainnya akan hilang jika shutdown terus berlanjut.





enat AS dijadwalkan akan kembali bersidang pada Selasa (14/10) dan kembali melakukan voting terkait rancangan anggaran yang telah disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS. Namun, rancangan tersebut telah tujuh kali gagal mencapai batas minimal 60 suara. Anggota Senat dari Partai Republik telah berusaha memperoleh dukungan dari Partai Demokrat, tetapi upaya tersebut sebagian besar gagal.





Kebuntuan politik berpusat pada perselisihan mengenai subsidi asuransi kesehatan di bawah Undang-Undang Layanan Kesehatan Terjangkau (Affordable Care Act), yang menurut kubu Demokrat harus dipertahankan, sementara kubu Republik menuntut agar pemerintahan dibuka kembali terlebih dahulu.





Ketua DPR AS Mike Johnson pada Senin tersebut mengatakan kepada awak media bahwa dirinya tidak akan bernegosiasi dengan anggota parlemen dari Partai Demokrat sampai mereka mencabut tuntutan kebijakan terkait layanan kesehatan.


Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Azhari

Tags

Terkini

Iran anggap musuh negara yang ikut perang ekonomi AS

Senin, 24 Agustus 2026 | 08:20 WIB

Kemlu pantau kondisi WNI pascagempa Kolombia

Selasa, 11 Agustus 2026 | 15:03 WIB

Bahrain dan Kuwait diam-diam serang Iran

Sabtu, 25 Juli 2026 | 23:07 WIB

Terpopuler

X