Ia mengatakan, penyebab anjloknya harga minyak nilam di tingkat petani itu karena lesunya permintaan untuk pangsa pasar ekspor. Sudah enam bulan lebih ekspor minyak nilam terhenti karena belum adanya permintaan untuk ekspor.
Hal yang sama juga dikatakan petani nilam, Iskandar di desa Tengoh Geunteut , kecamatan Lhoong akibat harga anjlok petani lebih memilih bertahan menyimpan stok.
Hasil minyak nilam petani di desa itu ditampung oleh koperasi nilam sebelum di ekspor ke Prancis.
Koperasi nilam yang menampung minyak atsri petani kisaran seharga Rp700 ribu per kilogram menurut kualitas dengan kadar PA (Patchouli Alcohol) 30 persen hingga 32 persen.
Meskipun harga minyak atsiri tanaman nilam turun drastis, petani mengaku masih tetap bersemangat menanam tanaman nilam dengan harapan pasar nilam kembali membaik sebagaimana pengalaman sebelumnya harga komoditas minyak atsri turun dan beberapa bulan kemudian menguat.
Makanya kami di desa ini tetap beraktivitas di kebun menanam nilam, kata Amir saat mempersiapkan bibit nilam untuk dipindahkan dari area persemaian ke lahan penanama.
Ia menyatakan, dengan kondisi harga komoditas minyak nilam mencapai Rp700 ribu, sudah tentu rugi atau untungnya tipis, karena tidak sebanding dengan biaya produksi. Untuk upah buruh Rp100 ribu per orang dan biaya produksi menjadi minyak nilam Rp300 ribu dan belum termasuk pupuk juga naik.
Di kecamatan Lhoong, salah satu sentra tanaman nilam di Aceh terdapat sekitar 300 petani nilam yang berusaha secara mandiri.