Petani merawat tanaman nilam (Pogostemon cablin) di lahan perkebunan kawasan perbukitan Kecamatan Lhoong, Kabupaten Aceh Besar, Aceh. Foto Aentenews by Ampelsa
Banda Aceh (Aentenews) – Memang mereka tidak pernah ke Prancis, sebuah negara di Benua Eropa, tempat buyer atau penampung terbanyak produk yang dihasilkan dari keringat para petani di lembah gampong Geunteut, Aceh Besar.
Namun, Prancis sebagai produsen minyak wangi yang mendunia itu cukup pasih tersebut oleh para petani, karena mereka tahu bahwa hasil perkebunannya di ekpor ke negara yang dipimpin Presiden Emmanuel Macron
"Nilam adalah hidup kami. Meski harganya kini jatuh, namun kami tidak akan meninggalkannya, " kata Amir, patani nilam di Geuteuet.
Petani nilam di Aceh Besar menunjukkan semangat yang tak pernah padam, meski harga nilam anjlok.
Harga jual komoditas minyak atsiri dari tanaman nilam (Pogostemon cablin) mengalami penurunan signifikan menjadi Rp700 ribu per kilogram dari sebelumnya mencapai Rp1.800.000 per kilogram .
“Penurunan harga minyak nilam itu sudah berlangsung sejak Agustus 2025 hingga awal tahun ini,” kata Amir.