“Karena itu, kami hadir melalui SLCN dengan turun langsung ke lokasi tempat bapak-bapak beraktivitas. Kami ingin memastikan informasi BMKG benar-benar sampai kepada masyarakat yang membutuhkan dan dapat digunakan dalam pengambilan keputusan di lapangan,” ucap Hendro.
Ia menjelaskan, SLCN tidak hanya menjadi forum pelatihan, tetapi juga ruang untuk bertukar pengetahuan antara BMKG dan para nelayan. BMKG memberikan pengetahuan berbasis ilmu dan teknologi, sedangkan nelayan memiliki pengalaman panjang dalam membaca kondisi laut.
“Kami membawa ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi cuaca, tetapi para nelayan juga memiliki sesuatu yang sangat berharga, yaitu pengalaman bertahun-tahun berada di laut,” katanya.
Ia berharap pengalaman nelayan dalam membaca perubahan awan, karakter gelombang dan kondisi laut dapat dipadukan dengan informasi ilmiah BMKG.
“Dengan demikian kita tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi membangun pemahaman bersama. Inilah yang kami harapkan menjadi kekuatan SLCN di Aceh Besar,” ungkap Hendro.
BMKG Provinsi Aceh, pelaksanaan SLCN 2026 bertujuan memperkuat koordinasi antara BMKG melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Iskandar Muda Banda Aceh dengan pemerintah daerah dan stakeholder terkait lainnya.
“Kegiatan ini kita jadi kerjasama memperkuat rantai komunikasi dalam penyampaian informasi dan peringatan dini cuaca ekstrem, membangun sikap tanggap cuaca bagi nelayan serta meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi V H Ghufran Zainal Abidin MA, yang membuka kegiatan SLCN tersebut turut mengapresiasi pelaksanaan program BMKG di Aceh Besar. Ghufran meminta para peserta mengikuti seluruh materi dan pembekalan yang diberikan BMKG dengan serius, khususnya mengenai pemahaman cuaca dan kondisi laut.