Terkait tiga poin yang disampaikan PPRI, Syech Muharram menegaskan bahwa Aceh Besar memiliki lahan yang luas, petani yang siap berkembang apabila mendapat pendampingan, serta berharap adanya kepastian pasar agar petani tidak lagi mengalami kerugian akibat anjloknya harga hasil panen.
Ia mencontohkan pengalaman petani cabai yang kerap mengalami kerugian karena harga jatuh saat panen raya. Begitu juga dengan beberapa komoditas lainnya yang kerap menimbulkan trauma bagi petani akibat harga anjlok bertepatan dengan masa panen.
"Selama ini masyarakat sering mengalami trauma. Ketika harga cabai mahal, semua menanam cabai. Namun saat panen, harganya justru turun drastis. Begitu juga komoditas lain, ketika panen petani bingung harus menjual ke mana. Semoga dengan hadirnya PPRI nantinya hasil tembakau dari Aceh memiliki pasar yang jelas," harapnya.
"Mudah-mudahan tembakau Aceh nantinya menjadi tembakau super. Atas nama masyarakat dan pemerintah daerah, kami menyambut baik kedatangan rombongan PPRI. Ini merupakan peluang emas bagi Aceh Besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," imbuhnya.
Dalam forum itu, PT Bawang Mas Grup memaparkan pengalaman dan teknologi budidaya tembakau berkualitas, mulai dari proses pembibitan, pemilihan lahan di kawasan pegunungan, teknik penanaman, hingga menghasilkan daun tembakau dengan kualitas terbaik.
PT Bawang Mas Group merupakan perusahaan swasta besar asal Pamekasan, Madura, yang bergerak di bidang pertembakauan dan agrobisnis. Perusahaan ini dipimpin oleh H. Khairul Umam atau akrab disapa Haji Her, sosok pengusaha yang dikenal luas sebagai "Sultan Madura.
Aentenews by Ampelsa