Menggunakan mesin pompa untuk mendistribusikan air ke lahan sawah menambah biaya produksi, karena dalam satu hari petani harus mengeluarkan biaya sekitar Rp100.000 untuk membeli bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi untuk pompa air.
“Kami di desa ini harus mengeluarkan biaya membeli BBM non subsidi hingga Rp100.000 per hari untuk bahan bakar mesin pompa air,” kata Hendrik, petani di desa Kuta Cot Glee.
Muhammad Jabar, petani di desa Wue, kecamatan Jantho, kabupaten Aceh Besar juga menyatakan lahan sawahnya yang sudah ditanami padi mengalami kekeringan dan terancam gagal panen.
Petani mengharapkan, pemerintah membantu mengatasi masalah kekeringan lahan sawah di daerah Aceh Besar melalui sistem pompanisasi atau embung.
Tanaman padi terancam puso akibat lahan sawah kekeringan dan sawah rusak pascabanjir banjir bandang pada November 2025 seluas 89.582 hektare di provinsi Aceh, diprediksi berpotensi terjadi penurunan produksi padi pada musim panen Januari-Maret tahun 2026.
Aentenews by Ampelsa.