Di Kota Tua Yerusalem, Abdul Rahman al-Alami (22) mengatakan dirinya khawatir kaum muda akan dilarang untuk sholat di Masjid Al-Aqsa.
"Hanya tinggal beberapa hari lagi, dan orang-orang seusia kita mungkin akan dilarang masuk," katanya di dekat Gerbang Damaskus. Dia menambahkan bahwa pihak berwenang sering memasang penghalang, memasang gerbang elektronik, dan melakukan pemeriksaan selama Ramadan.
Sementara itu, penjajah Israel pada Ahad menyetujui dimulainya proses pendaftaran tanah di Tepi Barat untuk pertama kalinya sejak 1967, menurut pejabat Israel. Langkah ini diharapkan dapat mengklasifikasikan wilayah yang luas sebagai tanah milik negara.
Kepresidenan Palestina mengutuk keputusan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan menggambarkannya sebagai langkah menuju aneksasi de facto. Israel merebut Tepi Barat dalam perang Timur Tengah tahun 1967, dan sebagian besar komunitas internasional menganggap permukiman di sana ilegal.
Menjelang Ramadan, warga Palestina di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem mengatakan mereka bersiap menghadapi Ramadan yang diwarnai dengan pembatasan pergerakan, pengamanan ketat, dan situasi sulit yang berlarut-larut.
Artikel ini telah tayang di indonesiawindow.com dengan judul "Ramadan 1447 – Warga Palestina bersiap hadapi ‘Ramadan kelabu’ di tengah eskalasi kekerasan dan ketegangan di Gaza dan Tepi Barat", //Redaksi.