Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS menjelaskan, ekspor sektor industri pengolahan meningkat 12,48 persen secara tahunan. Peningkatan tersebut terutama berasal dari komoditas logam dasar bukan besi, nikel, aluminium, tembaga, serta bahan kimia dasar organik dan produk lainnya. “Peningkatan nilai ekspor nonmigas utamanya didorong oleh sektor industri pengolahan yang naik secara year on year sebesar 12,48 persen,” kata Ateng Hartono.
Secara kumulatif Januari hingga Agustus 2026, nilai ekspor nonmigas mencapai USD185,63 miliar, meningkat 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut antara lain berasal dari ekspor nikel dan barang daripadanya, bahan bakar mineral, serta lemak dan minyak hewani atau nabati.
Berdasarkan negara tujuan, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India menjadi tiga tujuan utama ekspor nonmigas Indonesia. Ketiganya menyumbang 44,50 persen terhadap total ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Ekspor nonmigas ke Tiongkok tercatat sebesar USD47,44 miliar dolar AS, meningkat 17,42 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025. Sementara itu, ekspor nonmigas ke Amerika Serikat mencapai USD22,41 miliar dolar AS dan ke India sebesar USD12,77 miliar.
Selain itu, tiga komoditas unggulan Indonesia, yakni besi dan baja, minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya, serta batu bara, turut mencatat pertumbuhan secara kumulatif. Masing-masing meningkat 4,88 persen, 6,57 persen, dan 4,31 persen pada Januari–Agustus 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Perkembangan tersebut berlangsung di tengah peningkatan harga sejumlah komoditas di pasar global pada Agustus 2026. BPS mencatat kenaikan harga secara tahunan terjadi pada kelompok pertanian, energi, logam mulia, serta logam dan mineral. Harga batu bara kualitas tinggi, misalnya, meningkat 20,50 persen secara tahunan.