Ia menambahkan, dominasi realisasi investasi di luar Pulau Jawa menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi semakin inklusif. Hal ini tidak terlepas dari kebijakan hilirisasi yang mendorong investasi menyebar ke berbagai daerah,” ungkap Rosan.
Secara sektoral, investasi masih didominasi oleh industri pengolahan, khususnya industri logam dasar dengan nilai Rp69,4 triliun, yang menjadi pendorong utama hilirisasi.
Secara keseluruhan, realisasi investasi di sektor hilirisasi mencapai Rp147,5 triliun atau hampir 30% dari total investasi pada triwulan ini, dengan pertumbuhan sebesar 8,2% (year-on-year). Rosan menambahkan, investasi hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi nasional dan ketahanan terhadap fluktuasi harga komoditas global.
Kontributor besar lainnya meliputi jasa (didukung pusat data, jasa penunjang energi, dan layanan kesehatan), pertambangan, perumahan dan kawasan industri, serta transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi.
Sementara itu, dari sisi asal negara investor, realisasi PMA masih didominasi oleh Singapura (USD4,6 miliar), diikuti Hong Kong (RRT) (USD2,7 miliar), Tiongkok (USD2,2 miliar), Amerika Serikat (USD1,3 miliar), dan Jepang (USD1,0 miliar), yang menunjukkan kuatnya posisi Indonesia dalam rantai investasi global.
Aentenews by Ampelsa.