Foto yang dirilis pada 21 Juli 2019 ini menunjukkan kapal tanker minyak Inggris 'Stena Impero' di dekat Selat Hormuz, Iran. (Xinhua/ISNA/Morteza Akhoundi)
London (Xinhua/Indonesia Window/Aentenews) - Ketegangan di sekitar Selat Hormuz menyebabkan kenaikan biaya di seluruh industri pelayaran global, dengan perusahaan-perusahaan kini menghadapi tambahan biaya bahan bakar harian sebesar 340 juta euro.
Ketegangan di sekitar Selat Hormuz menyebabkan kenaikan biaya di seluruh industri pelayaran global, dengan perusahaan-perusahaan kini menghadapi tambahan biaya bahan bakar harian sebesar 340 juta euro, demikian ungkap Transport and Environment, sebuah kelompok advokasi transportasi ramah lingkungan Eropa, pada Jumat (27/3).
1 euro = 19.528 rupiah.
Dikutip dari indonesiawindows.com, Ahad, menyebutkan perusahaan-perusahaan pelayaran telah menanggung tambahan biaya bahan bakar lebih dari 4,6 miliar euro sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat (AS) dan Israel memulai serangan masif terhadap Iran, papar kelompok tersebut dalam sebuah laporan.
Harga bahan bakar maritim melonjak tajam, sebut laporan itu, dengan harga bahan bakar minyak rendah sulfur (very low sulphur fuel oil/VLSF) di Singapura merangkak naik hingga 941 euro per ton, atau meningkat sebesar 223 persen sejak awal 2026. Harga gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) juga telah naik sebesar 72 persen sejak awal Maret, yang semakin menambah beban biaya operasional bagi para pemilik kapal.
Laporan tersebut juga menuturkan bahwa mengingat 99 persen armada global masih menggunakan bahan bakar fosil, industri pelayaran "terpapar langsung" oleh fluktuasi harga bahan bakar dan gangguan pasokan.
"Kekacauan di Selat Hormuz membuat perdagangan maritim global menjadi sorotan, tetapi yang pertama merasakan dampaknya adalah pasar minyak," kata Eloi Norde, pejabat kebijakan pelayaran organisasi tersebut. "Perang ini merugikan industri hingga jutaan setiap harinya."
Dia mengatakan krisis saat ini berpotensi mempercepat investasi dalam solusi energi yang lebih bersih, dan kekhawatiran terdahulu mengenai biaya tinggi dalam pelayaran ramah lingkungan kini tampak kurang signifikan jika dibandingkan dengan skala gangguan yang sedang dihadapi industri saat ini.