Foto yang diabadikan pada 12 Januari 2026 ini menunjukkan para siswa di Sekolah Pendidikan Al-Shamal, yang terletak hanya 100 meter dari 'Garis Kuning', di Kamp Pengungsi Jabalia, Jalur Gaza utara. (Xinhua/Rizek Abdeljawad)
Palestina (Xinhua/Indonesia Window/Aentenews) – Gerakan Jihad Islam di Palestina pada Sabtu (17/1) menyatakan bahwa susunan Dewan Perdamaian untuk Gaza yang diumumkan oleh Amerika Serikat (AS) melayani kepentingan Israel.
Gerakan itu mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa susunan dewan tersebut "selaras dengan spesifikasi Israel dan melayani kepentingan pendudukan, sebagai indikasi jelas dari niat negatif terkait pelaksanaan ketentuan perjanjian gencatan senjata."
Gerakan itu menegaskan komitmennya untuk melaksanakan ketentuan perjanjian pada fase pertama, dan menyatakan kesiapannya untuk melanjutkan ke fase kedua "meskipun ada penundaan dari pihak Israel, pelanggaran harian yang terus berlangsung, dan kegagalan untuk mematuhi apa yang telah disepakati."
Gedung Putih pada Jumat (16/1) secara resmi mengumumkan nama-nama anggota Dewan Perdamaian untuk Gaza.
Dengan Presiden AS Donald Trump sebagai ketua, dewan tersebut terdiri dari Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, utusan khusus Trump Steve Witkoff, menantu Trump Jared Kushner, dan mantan perdana menteri Inggris Tony Blair, menurut keterangan dari Gedung Putih.
Sementara itu, Kepala Badan Intelijen Umum Mesir Hassan Rashad pada Sabtu (17/1) menyatakan dukungan bagi komite teknokratik Palestina yang baru dibentuk dan bertugas untuk mengelola Jalur Gaza, papar media milik negara Mesir Al-Qahera News.
Dalam pertemuan dengan Ketua Komite Ali Abdel Hamid Shaath dan sejumlah anggota komite lainnya, Rashad menegaskan kembali komitmen Mesir untuk memastikan kesuksesan komite tersebut dalam melaksanakan tugasnya, tambah laporan itu.
Shaath mengucapkan apresiasi atas peran Mesir dalam mendukung rakyat Palestina, menghentikan pengusiran paksa warga Palestina, dan mempertahankan perjuangan Palestina.