Menjelang malam, saya kembali ke Banda Aceh. Perjalanan pulang ditemani gelap, dingin, dan suara air yang terus mencari jalannya sendiri. Pukul 23.00 WIB saya tiba di rumah, membawa pulang satu pertanyaan yang terus menggantung.
Berapa banyak lagi bangunan, pesantren, masjid, dan rumah warga yang harus hilang sebelum kita benar-benar serius membangun dengan kualitas, bukan sekadar formalitas?
Sungai telah mengambil kembali apa yang pernah kita abaikan. Semoga kita tidak menunggu bencana berikutnya untuk belajar bahwa pembangunan yang buruk bukan hanya soal anggaran, tetapi soal nyawa, ruang belajar, tempat ibadah, dan masa depan generasi kita.// Redaksi.