Penulis
Dr Tgk M Adli Abdullah
Banda Aceh (Aentenews) - Hari ini, teriakan banjir dan tanah longsor membahana ke sentaro Aceh dan publik nasional, bahkan, bisa jadi sampai ke masyarakat internasional.
Telepon genggam pun berdering atau lewat pesan singkat dari kerabat atau saudara dari luar Aceh, khusus bertanya kabar tentang "bagaimana keadaan disana (Aceh)".
Beriring detik, hujan tak henti-henti sejak beberapa hari terakhir. Langit serasa tak memberi jeda, dan air datang dari segala arah. Listrik padam. Internet hilang. Aceh kembali sunyi dalam gelap dan ketidakpastian.
Pada Kamis pagi, 27 November 2025, saya memberanikan diri menuju Pesantren Najmul Hidayah Al Aziziyah, Meunasah Subung, Cot Meurak, Samalanga, dayah yang bangunannya viral di media sosial karena ambruk terseret arus sungai.
Bukan untuk melihat reruntuhan semata, tetapi mencari kabar tentang anak-anak yang tinggal di sana, serta memastikan sejauh apa kerusakan akibat luapan Krueng Batee Iliek.