Banda Aceh (Aentenews) – Sejumlah petambak kepiting soka atau kepiting lunak (Scylla serrata) di Banda Aceh mengaku kesulitan untuk memperoleh bibit kepiting pasca bencana alam banjir dan longsor di Aceh.
Petambak mengaku, selama ini petambak memperoleh bibit kepiting soka dari kabupaten Aceh Timur dan Aceh Utara untuk pemenuhan kebutuhan produksi. Namun, pascabencana banjir pasokan bibit kepiting sangat terbatas dan harus antre selama beberapa minggu.
“Kondisi ini terjadi pascabencana, kalaupun bibit kepiting tersedia jumlahnya terbatas dan para petambak harus antre untuk mendapatkannya,” kata Zulfan, petambah budidaya kepiting di Banda Aceh, Sabtu (14/2/2026).
Menurutnya, dampak terbatas stok bibit kepiting soka itu, mempengaruhi peningkatan produksi dan pemenuhan permintaan kebutuhan pasar, baik di dalam negeri maupun untuk pasar ekspor.
Kelangkaan bibit kepiting soka itu, menurut pedagang di daerah akibat banjir yang terjadi di Aceh Timur dan Aceh Utara. Lahan tempat berkembangnya bibit kepiting soka terdampak bencana dan hanyut bersama banjir bandang.
Untuk saat ini, kata Zulfan, pasokan bibit kepiting didatangkan dari Aceh Utara yang tidak terdampak banir. Berkurangnya kawasan mangrove sebagai habitat kepiting salah satu menjadi penyebabnya.
Petambak menyatakan, pasokan bibit kepiting berumur sekitar tiga bulan dan kemudian dipelihara selama tiga hingga empat minggu lalu dipanen ketika kepiting memasuki fase pergantian kulit