Banda Aceh (Aentenews) - Jika bertandang ke Aceh Besar dan Banda Aceh, rasanya belum lengkap jika saat makan siang atau malam, anda tidak menikmati sajian kuliner yang sejarahnya sudah populer sejak zaman Kesultanan Aceh.
Namanya "Kuah Beulangong" yang merupakan menu wajib terutama pada acara-acara sakral bagi masyarakat di dua daerah tersebut.
Meski setiap gampong di Aceh Besar dan Kota Banda Aceh, pasti disediakan "Kuah Beulangong" sebagai menu utama menjamu undangan saat pesta perkawinan, kenduri hajatan, sunat rasul, syukuran, Nuzul Quran (tamat daruh/qhatam Quran), peringatan Maulid Nabi Muhammad SWA, dan sebagainya.
Namun, Kuah Beulangong bukan sekadar hidangan, melainkan perwujudan warisan budaya indatu yang menyimpan cerita panjang tentang akar dan identitas masyarakat Aceh.
Sebagai kuliner peninggalan indatu, hidangan ini membawa rasa khas yang tak terlupakan dan menjadi jembatan menghubungkan masa kini dengan jejak langkah leluhur.
Citra rasa yang menggugah
Namun Kuah Beulangong yang bahan baku utama daging sapi, dan dimasak serta disajikan masyarakat Gampong Ateuk Munjeng, Kecamatan Baiturrahman Kota Banda Aceh, rasanya pasti beda dan akan menggugah selera bagi siapapun yang mencicipinya.
Perpaduan rempah-rempah pilihan dengan bahan-bahan lokal yang diolah secara tradisional dalam belanga (kuali berukuran besar) menambah cita rasa khas yang kaya akan rempah-rempah.