Foto udara Ampelsa
Sementara, Pemerintah Aceh melalui kepala Dinas Kelautan dan Perikanan provinsi Aceh menyatakan terdapat seluas 30.000 ribu heektare lahan tambak rusah akibat bencana banjir yang terdiri dari rusak ringan, rusak sedang hingga rusak berat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh, Kariamansyah, menjelaskan sekitar 30 ribu hektare tambak rusak yang tersebar di beberapa daerah terdampak bencana banjir di Aceh mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi.
Kalau kita lihat sampai saat ini, yang paling terdampak itu masyarakat petambak. Hampir seluruh wilayah pesisir terkena dampak, dengan luas sekitar 30 ribu hektare,” kata Kariamansyah.
Proses identifikasi dilakukan secara bersama oleh Pemerintah Kabupaten/Kota, Provinsi, hingga Kementerian terkait. “Data ini sudah kita identifikasi, sekarang tinggal validasi ulang agar datanya sinkron antara kabupaten, provinsi, dan KKP,” ujarnya.
Wilayah dengan kerusakan terparah berada di Aceh Utara, disusul Aceh Timur, Bireuen, Pidie Jaya, dan Aceh Tamiang. Pemerintah Aceh berharap rehabilitasi dapat segera dilakukan mulai tahun ini, dengan prioritas pada tambak yang mengalami kerusakan berat, pungkasnya
Pemerintah akan memulai rehabilitasi lahan tambak terdampak bencana banjir tahun 2026 di Aceh setelah memperoleh data valid dengan target penyelesaian tiga tahun sebagai upaya pemulihan ekonomi warga pesisir di Aceh.//Aentenews by Ampelsa.