"Acara tersebut bukan sekadar pembacaan puisi, melainkan ruang pertemuan antara generasi muda dengan jejak sastrawan Aceh. Di bawah pohon-pohon rindang, kata-kata seakan hidup kembali—mengalir dari mulut para mahasiswa menuju ingatan kolektif tentang pentingnya menjaga kebudayaan dan tradisi literasi," ucap penyair LK Ara.
“Puisi bukan hanya dibaca, tetapi dirasakan,” tambah salah seorang peserta usai tampil membacakan karya di hadapan hadirin.
Kegiatan Jejak Maestro L K Ara berlangsung penuh keakraban dan menjadi penanda bahwa sastra masih memiliki tempat di hati generasi muda, terutama di lingkungan kampus.
"Sungguh, di ruang terbuka itu, puisi tidak terdengar sebagai suara yang jauh, melainkan dekat dengan tanah, angin, dan kehidupan sehari-hari," papar Herinawati salah seorang Dosen Unimal//Aentenews by Bachtiar.