Tidak hanya Arasyid, petani lainnya Kamaruddin di kecamatan Suka Makmur tersebut mengeluh pada musim panen tahun ini sekitar 50 persen tanaman padi puso dampak kekeringan .
Petani memperlihatkan bulir padi gagal panen atau puso di Aceh Besar, Aentenews Foto/Ampelsa
“Sekitar 50 persen buah yang dapat di panen. Dipastikan produksi gabah kering panen (GKP) tahun ini anjlok. Rata rata tanaman padi yang gagal panen itu merupakan lahan sawah sawah tadah hujan, “ katanya.
Dikatakannya, sawah di daerah ini tergolong sawah tadah hujan, meski masuk dalam wilayah irigasi. Namun, pasokan air irigasi tersebut tak pernah sampai pada saat musim tanam, karena tidak meratanya pembagian dari hulu hingga ke hilir.
Untuk mengatasi kesulitan tersebeut, petani mengakui membangun beberapa titik sumur bor secara bersama sama dan selain sumur bor milik pribadi untuk pemenuhi kebutuhan air sawah.
“Persoalannya, petani kesulitan sumber air dan sumur bor juga mengering akibat kemarau . Akhirnya sawah yang sudah terlanjur ditanami padi tumbuh dan berkembangan secara abnormal dan gagal panen,” kata Kamaruddin.
Keluhan yang sama juga disampaikan Muslim, petani di desa Ujong XXII, kecamatan Ingin Jaya yang mengalami gagal panen . Di desa tersebut sebagian besar tanaman padi gagal panen akibat tanaman padi mengelamai kekeringan dampak El Nino. Sejak awal mulai pengolahan lahan sawah hingga memasuki musim tanam sudah terlihat ancaman kemarau.
Petani yang sawah tergolong tadah hujan, berharap kepada pemerintah melakukan pengaturan secara adil pasokan air irigasi hingga sampai ke lahan sawah dan selain bantuan mesin pompa untuk sumur bor.