Sesuai arahan Bupati Aceh Besar, katanya, pemerintah daerah akan terus memantau kondisi lahan pertanian yang terdampak kemarau dan menyalurkan bantuan pompanisasi secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.
“Kami terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar penanganan kekeringan dapat dilakukan secara cepat dan tepat sasaran. Harapannya, petani tetap dapat berproduksi dan terhindar dari risiko gagal panen,” katanya.
Sebagai bagian dari penanganan darurat kekeringan, BWS Sumatera I memfasilitasi sebanyak 20 unit mesin pompa melalui skema pinjam pakai. Hingga saat ini, enam unit telah disalurkan ke sejumlah kawasan persawahan yang mengalami kekeringan di Aceh Besar, sementara sisanya akan didistribusikan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.
Sementara, petani mengapresiasi bantuan pompanisasi untuk mengatasi lahan sawah terdampak kekeringan. Namun, di pihak lain petani mengaku kesulitan untuk mendapat sumber air karena genangan air yang masih tersisa air dan selama ini digunakan juga sudah mulai mengering dan selain sumber air sungai berada jauh dari lokasi persawahan.
“Kami harus menggunakan mesin pompa mengambil air sungai yang jaraknya jauh mencapai ratusan meter mengguna pipa. Beban tambahan lainnya, bahan bakar minyak (BBM) untuk mesin pompa sehari sebanyak lima liter per hari,” kata Mayuddin, di desa Lampeunerut, Aceh Besar.
Musim kemarau tidak hanya berisiko pada petani dalam upaya menyelamatkan tanaman padi agar tidak gagal panen. Namun, biaya produksi bertambah karena harus mengeluarkan biaya tambahan membeli BBM untuk mesin pompa.
Aentenews by Ampelsa.