“Huntara di Lawet sedikit terlambat karena kendala teknis dan akses distribusi material. Untuk menuju lokasi harus melewati jembatan gantung yang hanya bisa dilalui sepeda motor,” jelasnya.
Tarmizi berharap, keberadaan hunian sementara yang dibangun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut dapat memberikan tempat tinggal yang layak bagi warga terdampak, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.
“Kita berharap masyarakat sudah memiliki tempat tinggal sementara yang layak sebelum Lebaran,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa sebanyak 49 unit hunian telah direncanakan dalam program penanganan pascabencana tersebut, sementara dana penanganan juga telah disalurkan. Pemerintah daerah juga terus mendorong percepatan pembangunan huntap oleh pemerintah pusat.
Selain itu, Pemkab Aceh Barat juga mengusulkan program penguatan kebun dan pembangunan tanggul pengaman dengan nilai usulan mencapai Rp200 miliar guna mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
Bupati juga mengingatkan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan saat musim hujan, mengingat potensi bencana hidrometeorologi masih dapat terjadi.
“Ketika hujan turun, masyarakat harus tetap waspada. Walaupun kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana sudah cukup terlatih, namun kewaspadaan tetap diperlukan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pemerintah juga akan melakukan pendataan ulang lahan persawahan, termasuk kemungkinan pencetakan sawah baru serta pembangunan tanggul pengaman guna melindungi lahan pertanian masyarakat.