Kepala Negara kemudian mengaitkan pembangunan infrastruktur tersebut dengan capaian pemerintah dalam memperkuat kemandirian energi nasional. Sehari sebelumnya, Presiden meresmikan implementasi B50 yang menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang mampu memproduksi bahan bakar diesel berbasis minyak sawit dengan campuran 50 persen.
“Lima bendungan yang kita resmikan hari ini adalah investasi negara sekitar Rp9,79 triliun. 9,79 triliun. Kemarin adalah hari yang sangat bersejarah. Saya meresmikan launchingIndonesia negara pertama di dunia yang bisa membuat solar dari tanaman nabati, dari kelapa sawit. Solar kita sekarang 50 persen dari kelapa sawit,” ujar Presiden Prabowo.
Secara umum, kelima bendungan ini memiliki empat fungsi utama yaitu untuk mendukung layanan irigasi dengan luas 39.540 hektare dan penyediaan air baku 3,6 meter kubik per detik. Selain itu, bendungan ini juga berfungsi untuk pengendalian banjir terutama di daerah hilir dari bendungan dan juga untuk penyediaan energi.
Pada kesempatan itu, Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mengatakan bahwa kelima bendungan dibangun dalam rentang waktu antara tahun 2015 sampai 2025. Pembangunan bendungan ini, menurut Menteri PU, bukan hanya menghadirkan infrastruktur, tetapi membangun fondasi kedaulatan bangsa dan negara.
“Melalui lima bendungan ini, Bapak, Bapak telah mendorong kemandirian bangsa dalam mendukung Asta Cita Bapak, khususnya terkait dengan ketahanan pangan, ketahanan energi, dan ketahanan air,” kata Menteri PU.
Kehadiran lima bendungan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam membangun infrastruktur pengairan di berbagai daerah di Indonesia.
Melalui pembangunan bendungan, penguatan ketahanan energi, dan pengelolaan anggaran yang lebih efisien, Kepala Negara menegaskan komitmen pemerintah untuk terus menghadirkan pembangunan yang berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
Foto Bendungan Ruko,Pidie.