Berbagai kolaborasi lintas sektor, termasuk subsidi daging meugang, turut dilakukan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus melindungi tradisi lokal.
Di sektor pembangunan manusia, pemerintah menaruh perhatian besar pada penguatan karakter generasi muda melalui pendidikan diniyah, pembinaan remaja masjid, serta pelatihan keterampilan melalui Banda Aceh Academy.
Upaya ini bertujuan membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara spiritual, berakhlak, dan memiliki kepedulian sosial di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi.
Sementara itu, pada aspek pelayanan publik dan kesehatan, berbagai reformasi terus dilakukan. Angka stunting di Banda Aceh menunjukkan tren penurunan menjadi 21,7 persen melalui penguatan layanan kesehatan dasar, program jemput bola seperti Dokter Saweu, serta peningkatan fasilitas puskesmas.
Cakupan layanan air bersih juga telah menjangkau lebih dari 92 persen penduduk, bahkan selama Ramadan air bersih untuk masjid dan meunasah digratiskan guna mendukung kelancaran ibadah masyarakat. Reformasi birokrasi berbasis teknologi informasi turut dioptimalkan agar pelayanan semakin cepat, transparan, dan akuntabel.
Di bidang lingkungan dan ketertiban sosial, komitmen menjaga kebersihan kota terus diperkuat, tercermin dari keberhasilan meraih Adipura ke-11. Namun pemerintah menekankan bahwa budaya bersih harus menjadi karakter bersama, bukan sekadar target penghargaan.
Penegakan syariat Islam dan ketertiban umum juga dilakukan secara humanis dan edukatif, termasuk penguatan peran Satpol PP dan Wilayatul Hisbah di tingkat kecamatan untuk mempercepat penyelesaian persoalan masyarakat serta menjaga rasa aman dan nyaman selama Ramadan.
Afdhal juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat kolaborasi dalam membangun Banda Aceh.