Ia mengatakan, pengembangan kakao harus dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya dengan meningkatkan produksi bahan baku, tetapi juga melalui diversifikasi dan pengembangan berbagai produk olahan.
“Kita ingin nilai kakao menjadi lebih luas, tidak hanya dalam bentuk hasil perkebunan, tetapi juga dikembangkan menjadi berbagai olahan makanan dan minuman. Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara akan terus mendorong peningkatan kualitas produksi melalui penggunaan bibit unggul serta pengembangan produk turunan kakao, ujarnya.
Menurutnya, pelaksanaan festivl kakao tahun ini memiliki keistimewaan karena rangkaian kegiatan yang biasanya berlangsung satu hari, di Aceh Tenggara dilaksanakan selama dua hari dengan berbagai agenda pendukung.
Kepala Dinas Pertanian Aceh Tenggara, Riskan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan keunggulan kakao daerah sekaligus mendorong peningkatan nilai ekonomi bagi masyarakat.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan juga diarahkan untuk mengedukasi petani, mengembangkan produk turunan kakao, serta meningkatkan nilai ekonomi dan daya saing. Kita ingin kakao tidak berhenti pada produksi bahan baku, tetapi berkembang menjadi berbagai produk turunan yang memiliki nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.
Ia menegaskan, pengembangan kakao membutuhkan kolaborasi lintas sektor antara Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara, petani, pelaku usaha, UMKM dan berbagai pihak terkait.
Luas areal tanaman kakao di Kabupaten Aceh Tenggara mencapai sekitar 21.549 hektare dengan tingkat produktivitas rata-rata mencapai 905 kg per hektare per tahun. Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan rakyat di Aceh Tenggara.
Aentenews by Ampelsa.