Meulaboh (Aentenews) - Ketua Pansus Pertambangan DPRK Aceh Barat, Ramli SE, mengungkapkan sejumlah temuan mengejutkan terkait aktivitas pertambangan emas di wilayah Krueng Woyla.
Dalam rapat gabungan DPRK Aceh Barat, Selasa (9/9), Ramli menyatakan tim pansus menemukan kapal keruk emas yang didatangkan dari Vietnam dan mulai beroperasi tanpa pemberitahuan resmi kepada pemerintah daerah.
Menurut Ramli, sejak akhir Agustus 2025, masyarakat Kecamatan Woyla dan Sungai Mas dihebohkan dengan masuknya puluhan kontainer berisi peralatan tambang ke desa mereka.
Setelah dilakukan pengecekan lapangan, tim pansus menemukan tiga unit kapal keruk asal Vietnam yang sedang dirakit oleh tenaga kerja asing. Dari sembilan pekerja, hanya satu orang putra daerah yang dilibatkan.
“Fakta ini sangat ironis, karena kegiatan pertambangan di wilayah kita dilakukan tanpa koordinasi, tanpa pemberitahuan kepada pemerintah kabupaten, bahkan menggunakan tenaga kerja asing,” tegas Ramli.
Ia juga menyoroti lemahnya transparansi perusahaan terkait aktivitas tambang. Pihak PT Megalanic Garuda Kencana (PT MGK) selaku pemegang izin disebut tidak memberikan laporan yang jelas tentang produksi, tenaga kerja, hingga penyaluran dana CSR. Padahal kapal keruk yang ditemukan sudah lama beroperasi.
“Kami menanyakan siapa yang menjadi supervisor tambang, bagaimana penghitungan hasil emas, hingga ke mana CSR disalurkan, namun jawabannya tidak jelas. Bahkan dana CSR untuk masyarakat sampai hari ini tidak transparan,” ujarnya.